Sukses

Sulit Bagi Listrik Gantikan Bensin, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta - Dewasa ini perkembangan kendaraan listrik semakin meningkat. Seakan di masa depan, ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional akan semakin menurun. Tentu ini baik untuk lingkungan.

Namun sepertinya masa depan tak secemerlang yang diharapkan. Menurut data dari Facts Global Energy (FGE), mayoritas mobil baru di dunia masih tetap menggunakan mesin konvensional, setidaknya dalam dua puluh tahun ke depan.

Melansir autoexpress.co.uk, Kamis (23/3/2017), diprediksi, pada 2040 akan ada 1,8 miliar unit mobil yang terjual. Dari angka ini, 10 persen di antaranya bertenaga listrik. Meski terkesan sedikit, namun sebetulnya ini tetap pertumbuhan yang cepat.

"Tapi tidak cukup untuk menurunkan permintaan terhadap minyak bumi," ujar riset itu.

Menurut mereka, belum bisa terkalahkannya kendaraan bensin salah satunya disebabkan karena angka rata-rata pengembangannya memang tidak cepat. Pabrikan otomotif yang harusnya jadi agen utama, justru tidak menawarkannya terlalu banyak.

Selain itu, harga mobil listrik juga rata-rata masih terlalu mahal. Salah satu aspek yang membuatnya demikian adalah ongkos produksi baterai yang sulit ditekan.

Sebab lainnya yang tertera dalam laporan tersebut adalah masyarakat belum terlalu percaya dengan kinerja kendaraan listrik. Mereka menganggap akan cukup merepotkan jika daya jelajah kendaraan rendah, sementara stasiun pengisiannya masih kurang.

Terakhir, laporan tersebut mengatakan bahwa pasar yang akan jadi penentu adalah Asia. Di sini, permintaan terhadap kendaraan bensin sangat tinggi, bahkan ketimbang di Barat sekalipun. Di satu sisi, ceruk kendaraan listrik masih sangat kecil.

Artikel Selanjutnya
Ragam Cara Isi Energi di Mobil Listrik
Artikel Selanjutnya
Bajaj Roda Tiga pun Bertenaga Listrik, Bakal Masuk Indonesia?