Sukses

Suzuki: Ignis Lebih Premium dari LCGC

Liputan6.com, Jakarta - PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengatakan bahwa Ignis, yang baru saja mereka luncurkan Senin ini (17/4), berbeda kelas dari low cost green car (LCGC) meski faktanya dari beberapa aspek tampak mirip.

"Kami lebih premium dari LCGC. LCGC ini ada di segmen baru bernama urban SUV (sport utility vehicle)," Donny Saputra, Marketing Director PT SIS, dalam persentasinya di acara peluncuran Ignis, dihelat di Jakarta.

Salah satu faktor yang membuat mobil ini jadi penantang serius LCGC adalah harga. Varian termurah Ignis, GL MT, dibanderol Rp 139,5 juta. Sementara GX MT dan GX AGS masing-masing dibanderol Rp 159,5 juta dan Rp 169,5 juta.

Sebagai pembanding, new Agya yang baru diluncurkan harga termurahnya Rp 127,6 juta hingga Rp 151,9 juta. Sementara new Alya dihargai Rp 92,55 juta sampai Rp 132,8 juta.

Kemudian juga soal konsumsi bahan bakar. Di atas kertas, Ignis mengonsumsi bahan bakar 23,64 km/liter (manual) dan 23,44 km/liter (matik).

Sementara kita tahu, melalui peraturan pemerintah, syarat sebuah mobil bisa mengikuti program LCGC adalah ia harus bisa mengonsumsi bahan bakar lebih dari 20 km/liter. New Agya 1,0 liter misalnya, konsumsi bahan bakarnya diklaim mencapai 22 km/liter.

LCGC juga haruslah diproduksi di dalam negeri. Dalam hal ini, Ignis memang masih didatangkan secara utuh dari India. Namun demikian, pihak SIS mengatakan bahwa di amsa depan, mungkin saja Ignis juga dibuat di sini.

Dengan syarat, penjualannya cukup baik. PT SIS mematok Ignis terjual 2.000 unit per bulan, atau setara dengan 20 persen total penjualan SIS secara keseluruhan.

Artikel Selanjutnya
Mobil Listrik CBU Perlu Insentif untuk Rangsang Pasar, Mengapa?
Artikel Selanjutnya
Nissan Ngebet Jualan Mobil Listrik di Indonesia