Sukses

Infrastruktur Masih Jadi Kendala Teknologi Otonomos di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu tren dalam industri otomotif di tingkat global adalah teknologi otonomos. Sederhananya, kendaraan, dalam hal ini mobil, dapat berjalan sendiri dalam tingkat atau kondisi tertentu.

Agar dapat berkendara mandiri seperti itu, mobil dilengkapi dengan sensor atau radar. Sensor ini yang bakal mengidentifikasi beragam objek yang ada di sekitar kendaraan, termasuk "membaca" marka jalan dan rambu, dan mengirimkannya ke "otak" mobil.

Tepat di titik inilah pengembangan mobil otonomos di Indonesia mandek. Sebagaimana diketahui bersama, infrastruktur seperti itu masih jauh dari sempurna di sini.

Jadi, meskipun teknologinya sudah tersedia, belum tentu ia bisa operatif di sini.

Hal seperti itu juga yang mengganjal BMW Indonesia dalam mengadopsi teknologi ini. Meski secara global bisa dibilang mereka salah satu yang paling depan.

"Di Indonesia untuk menuju ke arah sana tergantung dengan infrastruktur. Jadi dari BMW Group akan sangat diterima apabila infrastruktur jelas," ujar Jodie O' tania, Vice President Corporate Communication BMW Group Indonesia, dalam acara yang dihelat di Jakarta, Selasa (13/6/107).

Meski sulit, Jodie mengatakan kalau dalam waktu dekat BMW Indonesia bakal menjadi pelopor penerapan teknologi nirawak, tetapi baru sebatas fitur semi otonomos, yang tetap butuh manusia sebagai pihak yang sentral dalam mengontrol kendaraan.

"Kami akan menghadirkan beberapa fitur semi otonomos driving dalam waktu dekat," tambah Jodie. Sayangnya ia tidak menyebut model baru apa yang bakal tersemat teknologi ini.

Simak Juga Video Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
Mengatasi Limbah, Toyota Kembangkan Teknologi Baterai Baru
Artikel Selanjutnya
Indonesia Siap Bangun Pabrik Pintar Berbasis IoT