Sukses

Continental Buat Roda Khusus Mobil Listrik, Apa Bedanya?

Liputan6.com, Berlin - Mobil listrik diprediksi bakal berkembang pesat dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini membuat beberapa perusahaan di industri otomotif menyiapkan diri, dan salah satunya produsen ban, Continental.

Pabrikan komponen kendaraan asal Jerman ini, bahkan sudah memperkenalkan konsep roda untuk mobil listrik, yang dipadukan dengan sistem pengereman. Demikian dilansir Carscoops, Rabu (23/8/2017).

Tidak seperti sistem pengereman untuk mobil konvensional, roda dari Continental ini memiliki inovasi canggih. Dengan komponen yang berbentuk bintang, dan terpasang pada hub, sementara kaliper rem tersambung ke as roda serta cakram yang ditempel ke komponen berbentuk bintang tersebut.

Dengan konsep tersebut, Continental mengklaim roda untuk mobil listrik ini memiliki beberapa keuntungan, seperti bobot lebih ringan dibanding roda biasa, suara gesekan yang lebih senyap, dan memiliki umur pakai yang lebih panjang.

Sebenarnya, untuk sistem pengereman regenerative yang digunakan di mobil listrik hanya memakai disk, jadi bisa bertahan seumur hidup. Namun, kelemahan dari roda tersebut, pemilik harus lebih sering mengganti bantalan rem.

"Untuk kendaraan listrik, paling penting pengemudi hanya mengeluarkan sedikit tenaga untuk menginjak pedal rem, untuk membuat kendaraan sedikit demi sedikit melambat," papar Paul Linhoff, Kepala Pengembangan Rem, Sasis, dan Keamanan Continental.

Selama proses pelambatan, dijelaskan Linhoff ada waktu generator mengubah energi menjadi listrik untuk mengisi baterai, untuk meningkatkan jangkauan kendaraan listrik. "Karena itulah, pengemudi terus mengoperasikan pedal rem, tapi pastinya tidak berarti rem roda juga aktif," pungkasnya.

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini:

1 dari 2 halaman

Mobil Listrik di Indonesia

Untuk di Indonesia sendiri, pemerintah sudah menetapkan target jika pada 2025,  20 persen mobil yang terjual di Indonesia harus bertenaga listrik. Sementara itu, prediksi angka penjualan mobil di tahun tersebut, diharapkan mencapai dua juta unit, dan artinya 400 ribu di antaranya adalah mobil listrik.

Untuk peraturan terkait mobil ramah lingkungan ini memang tengah dikebut oleh pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian. Nantinya, mobil yang mampu tembus efisiensi bahan bakar 1 liter dengan jarak tempuh 28 km akan mendapatkan insentif.

"Insentifnya bisa 50 persen dari PPnBM. Untuk awal, nanti pabrikan bisa melakukan impor secara utuh terlebih dahulu, dan jika pasarnya sudah terbentuk baru melakukan produksi lokal,"  tutur I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian.

Lanjut Putu, saat ini kendaraan ramah lingkungan yang cocok di Indonesia adalah mobil hybrid. Pasalnya, kendaraan ini bisa menjadi jembatan untuk menuju full mobil listrik, jika nantinya infrastruktur sudah siap.

"Loh, hybrid itu listrik, kalau kita lihat bahwa kendaraan listrik yang full membutuhkan infrastruktur pengisian, tapi kalau hybrid menggendong sendiri peralatan pengisian mobil listrik," tutupnya.

Artikel Selanjutnya
TAU, Perusahaan Jepang Spesialis Mobil Rusak
Artikel Selanjutnya
Mungkinkah Mobil Terbakar Terpicu karena Masalah Aki?