Sukses

Intip Truk Tambang Raksasa Milik Freeport

Liputan6.com, Jakarta - PT Freeport Indonesia sudah puluhan tahun beroperasi di Indonesia. Mereka mengeruk emas dan logam mulia lain dengan peralatan canggih, termasuk truk raksasa.

Menurut penelusuran berbagai sumber, Rabu (30/8/2017), truk yang dipakai untuk alat angkut itu adalah Caterpillar 797. Truk ini pertama kali dibuat pada 1998, telah diperbarui terus menerus sampai dengan saat ini sudah masuk generasi ketiga.

Kalau melihat data-data di atas kertas, mungkin kita hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi sebagian besar dari kita tidak pernah melihatnya langsung. Kita hanya tahu bahwa kalau dibandingkan dengan mobil SUV sekalipun, tidak sampai setengah diameter rodanya.

Kita mulai dari dimensi. Menurut laman produsennya, cat.com, tinggi truk ketika terisi muatan lebih dari 7 meter, dengan panjang 14 meter. Sementara total penampang bannya mencapai 9,5 meter. Dimensi seperti ini membuat mobil semacam SUV sama sekali tidak ada artinya.

Tidak heran pula kalau truk ini mampu menampung benda hingga berat 363.0 metrik ton per satu kali angkut.

Bagaimana dengan mesinnya? 797 The Cat, demikian truk raksasa ini lebih dikenal di dunia pertambangan, menggunakan mesin Diesel raksasa 24 quad-turbo V24 yang hasilkan tenaga 3.793 Tk. Ketika terus menerus hidup, truk ini mengonsumsi solar sebanyak 250 liter per jam.

Sayangnya, di laman resmi mereka, tidak disebutkan berapa harga satu unit 797 Cat. Informasi soal harga harus diminta terlebih dulu dengan menyebutkan sejumlah data diri, termasuk alamat perusahaan. Sementara di sumber lain harganya sangat beragam.

Akan tetapi, sebagai gambaran saja, laman Industrytap menyebut angka US$ 5 juta atau setara Rp 66,7 miliar pada 2013 lalu. Sementara bannya saja, Michelin type 59/80R63 XDR, menurut laman otrtires.com pada 2016 lalu, mencapai US$ 69 ribu atau setara Rp 920,6 juta.

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini:

1 dari 2 halaman

RI kuasai freeport

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani membeberkan hasil perundingan pemerintah Indonesia dengan PT Freeport Indonesia. Dalam status yang diunggahnya di akun Facebook, Sri Mulyani mengungkapkan kegembiraannya akan persetujuan Freeport untuk divestasi 51 persen sahamnya kepada Indonesia.

"Setelah 50 tahun dimiliki oleh pihak asing, pemerintah melalui kepemimpinan Presiden Jokowi, berhasil menguasai 51 persen saham Freeport sehingga menjadi milik Republik Indonesia. Suatu hasil perundingan yang luar biasa. Selama ini, saham pemerintah Indonesia hanya 9,36 persen," tutur Sri Mulyani seperti dilansir dari akun Facebook-nya, Rabu (30/8/2017).

Dengan disetujui hal ini, Sri Mulyani yakin penerimaan negara yang didapat bisa lebih besar. Freeport juga akan membangun smelter setelah dikeluarkannya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Mantan Petinggi Bank Dunia ini menuturkan, proses negosiasi antara pemerintah dan Freeport sempat berjalan alot. Meski demikian, sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo menginginkan kerja sama antara dua pihak ini bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

“Beliau menghendaki agar negara Indonesia mendapatkan manfaat yang optimal dari keberadaan tambang tembaga, emas dan perak di Papua tersebut,” katanya.

Artikel Selanjutnya
Banyak Mata-Mata di Area Tambang Emas Luwu, Ada Apa?
Artikel Selanjutnya
Rusuh PT Freeport, Polisi Imbau Warga Mimika Beraktivitas Biasa