Sukses

Menengok Perkembangan Elektrifikasi di Negeri Gajah Putih

Liputan6.com, Bangkok - "Wabah" elektrifikasi di industri otomotif merambat ke negara-negara berkembang. Kendaraan berbahan bakar minyak dianggap sudah semakin mencemari lingkungan. Sebagai solusinya, hadir alternatif seperti kendaraan hybrid, dan listrik-penuh.

Di kawasan Asia Tenggara, nampaknya yang paling terdepan untuk segera merealisasikan ini adalah Thailand. Ini bukan tanpa alasan. Setidaknya sudah ada yang benar-benar ingin berinvestasi di sana.

Dilaporkan Bangkok Post, perusahaan energi bernama World Energy Group Co dengan enam mitra asingnya sepakat untuk menghabiskan US$ 760 juta (setara Rp 10 triliun) untuk membuat kendaraan listrik secara lokal. Keenam mitra itu di antaranya adalah BAIC dan Benling, pembuat mobil listrik asal Tiongkok.

Di bawah perusahaan gabungan bernama ETA, mereka tidak hanya memproduksi unit mobil, tapi juga suku cadangnya. Pabrik perakitan berlokasi di Samut Prakan, di Bangkok sebelah selatan. Rencananya kapasitas pabrik mencapai 10 ribu unit per tahun dan mulai beroperasi 2019.

Bukan hanya itu, mereka juga berniat membuat motor listrik. Rencana ini bahkan lebih cepat. Diproyeksikan motor listrik mulai beroperasi pada November, dengan kapasitas maksimal 60 ribu unit.

President T Group, induk perusahaan World Energy, Ratthakrit Netirathanonkul, mengatakan bahwa ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Seperti model bisnis otomotif Thailand pada umumnya, mereka juga berencana meraup keuntungan melalui kegiatan ekspor.

"Pada 2020, perusahaan akan mengekspor 60 persen dari total produksinya ke Nigeria, Ethopia, dan India," kata Netirathanonkul.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Bagaimana dengan Indonesia?

Bagaimana dengan Indonesia? Bisa dibilang, ada satu langkah di belakang Thailand. Sejumlah regulasi masih dipersiapkan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto sempat mengatakan bahwa sejak rencana ini diumumkan, sudah ada beberapa negara yang mengaku siap bekerja sama dengan Indonesia.

"Ini open untuk berbagai negara. Tapi Cina sudah menyatakan minat, Jepang minat, Taiwan minat. Nanti kita lihat, kita fasilitasi," ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Airlangga menjelaskan, untuk mengembangkan mobil jenis ini hingga mampu diproduksi secara massal, dibutuhkan lima unsur yang harus dimiliki produsen. Oleh sebab itu, tidak sembarangan produsen bisa mengembangkan mobil ini untuk tujuan komersial.

‎"Kuncinya distribusi network harus luas. Dua, kapasitas pabrik bisa tinggi. Ketiga, spare part terjamin. Keempat, resale value terjamin. Kelima, ada pembiayaan," ujar Airlangga.

Airlangga juga mempersilakan apabila produsen Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPI) serta perguruan tinggi ingin turut mengembangkan mobil listrik ini. Menurut dia, pemerintah akan mendukung para pemangkut kepentingan di dalam negeri untuk turut melakukan pengembangan.

Harapannya, pada 2025 nanti, 20 persen dari total mobil yang diproduksi adalah mobil listrik. Presiden Joko Widodo sendiri telah setuju dengan ini.

Artikel Selanjutnya
Peserta Wonderful Sail 2 Indonesia 2017 Enjoy di Pantai Riung
Artikel Selanjutnya
Aksi Nekat Guru Panjat Tiang Demi Betulkan Bendera Terbalik