Sukses

Tiongkok Pelajari Pelarangan Mobil Konvensional

Liputan6.com, Beijing - Tiongkok adalah pasar sekaligus produsen terbesar kendaraan listrik sampai saat ini. Tapi di satu sisi, kendaraan konvensional berbahan bakar minyak masih bebas diperjualbelikan di sana, setidaknya sampai saat ini.

Baru-baru ini, kantor berita Tiongkok, Xinhua, melaporkan bahwa pemerintah mulai mempelajari kapan harus melarang dan menjual mobil konvensional.

"Beberapa negara telah membuat timeline kapan harus menghentikan produksi dan penjualan mobil konvensional. Kementerian kami juga telah mulai penelitian yang relevan dan akan membuat hal yang sama," terang Xin Guobin, vice minister of the Ministry of Industry and Information Technology, dikutip dari Reuters, Senin (11/9/2017).

Xin bilang, langkah ini harus ditempuh setidaknya karena beberapa hal. Yang pailng jelas adalah mereka ingin serius mengatasi polusi udara yang semakin parah di sana. Alasan lainnya adalah untuk mengakselerasi rencana penjualan mobil listrik, yang diproyeksikan menguasai 20 persen dari total penjualan mobil secara keseluruhan pada 2025.

Menurutnya, industri otomotif dalam negeri memang akan menghadapi "masa-masa yang penuh gejolak" selama bertahun-tahun, hingga 2025. Tapi, menurutnya, itu harus dialami untuk bisa beralih ke kendaraan bertenaga energi alternatif.

Xin meminta pembuat mobil di negara itu, yang didominasi pabrikan lokal, untuk menyesuaikan strategi mereka agar selaras dengan aturan pemerintah.

Namun demikian rencana ini bukan tanpa cela. Song Qiuling, pejabat senior Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa subsidi pemerintah untuk sektor kendaraan listrik berpotensi disalahgunakan. Oleh karenanya memang perlu ada pengawasan yang lebih ketat.

Dia bilang kalau Tiongkok akan secara bertahap menarik subsidi di sektor ini.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

1 dari 2 halaman

Perancis dan negara lain

Satu negara yang telah memastikan melakukan regulasi yang sama adalah Perancis. Mereka akan melarang kendaraan mesin bensin dan diesel beredar di jalan raya pada 2040.

Nicolas Hulot, Menteri Ekologi dan Transisi Perancis, berjanji akan mengakhiri penjualan kendaraan bensin dan solar pada 2040. Selama 20 tahun ke depan, pemerintah Perancis menginginkan transisi yang menyeluruh untuk mobilitas listrik.

Untuk memulai proses ini, Menteri yang juga terkenal sebagai pegiat lingkungan ini akan membayar orang yang menjual kendaraan dieselnya sebelum 1997, atau model bensin sebelum 2001. Namun, pihaknya belum menentukan berapa jumlah insentif atau rincian mengenai hal tersebut.

Langkah Hulot merupakan tanda pemerintah negara Eropa ingin membersihkan jalan, dan mengurangi emisi rumah kaca.

Bahkan, Anne Hidalgo, Wali Kota Paris, sangat agresif dalam menindak pencemar. Misalnya di City of Light itu telah memulai pelarangan berlapis untuk kendaraan tua yang memasuki kota.

Perancis memang bukan negara Eropa pertama yang berencana untuk menghilangkan kendaraan bensin dan solar. Pada 2016, Jerman mengeluarkan undang-undang yang menyarankan larangan kendaraan konvensional masuk ke Uni Eropa, serta Belanda yang menyarankan hal serupa pada 2025 mendatang.

Artikel Selanjutnya
TAU, Perusahaan Jepang Spesialis Mobil Rusak
Artikel Selanjutnya
Sayer, Setir Mobil Otonomos Masa Depan