Sukses

Ferrari Ancam Cabut dari Ajang Balap F1, Mengapa?

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai regulasi ketat diterapkan di ajang balapan Formula 1 (F1). Termasuk, rencana federasi otomobil internasional (Federation Internationale de l'Automobile/FIA) yang akan kembali merombak mesin F1 agar lebih cepat.

Namun begitu, rencana tersebut rupanya tidak 100 persen disetujui pabrikan atau tim yang ikut dalam ajang balapan jet darat. Salah satunya adalah Ferrari.

Bahkan Chairman Ferrari, Sergio Marchionne mengancam tidak akan ikut ajang F1 jika aturan yang diterapkan di 2021 nanti dianggap tidak menguntungkan perusahaan mobil berlambang Kuda Jingkrak. Demikian dilansir Crash.net, Selasa (7/11/2017).

Kendati begitu, Sergio mengaku ada beberapa hal mendukung rencana pihak Liberty Media (pemilik baru) yaitu untuk mengurangi biaya menjalankan tim F1.

"Liberty memiliki beberapa niat baik, salah satunya adalah mengurangi biaya tim yang menurut saya bagus. Namun, ada beberapa hal yang kami tidak setujui, salah satunya adalah arah dari pengembangan powertrain, saya rasa itu adalah yang tidak akan bisa dirasakan (manfaatnya) bagi Ferrari,” ungkap Sergio.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 3 halaman

Jika Ferrari Meninggalkan F1

Menurut dia, jika aturan baru hasilnya tidak menguntungkan bagi merek, pasar, dan penguatan posisi Ferrari, maka Ferrari tak akan bermain F1.

“Jika Ferrari meninggalkan F1, masih terbuka banyak alternatif bisa dilakukan Ferrari di 2021 mendatang. Saya tidak ingin berprasangka terhadap hal ini, pastinya kami akan melakukan pertemuan Selasa depan dengan membawa niat baik, kami akan lihat bagaimana hasilnya," ucap Marchionne.

Ferrari menjadi satu-satunya pabrikan otomotif yang ikut andil di setiap kejuaraan dunia, F1. Perusahaan asal Italia ini, paling sukses dalam dunia sejarah mobil sport, antara lain 16 kali gelar konstruktor, 15 kali gelar untuk pembalapnya, dan 227 kemenangan balapan.

Terjun di dunia balap, Ferrari menerima keuntungan sebesar US$ 60-70 juta. Hanya saja, Ferrari sejak 2008 tidak pernah lagi memenangkan juara F1.

2 dari 3 halaman

Mesin Balap F1 Siap Kembali Dirombak Biar Lebih Cepat

Ancaman Ferrari ini terkait kabar sebelumnya, di mana FIA mengumumkan regulasi baru yang ditargetkan dapat diimplementasikan secara menyeluruh di 2021 mendatang. Aturan baru yang telah dipresentasikan FIA kepada tim balap ini nantinya, setiap jet darat akan mengusung mesin baru yang diklaim lebih kencang.

Langkah FIA ini diubah, karena adanya keluhan yang dilontarkan para tim balap F1 perihal mobilnya saat ini.

Rencananya, FIA akan tetap mempertahankan teknologi hibrida dan turbo yang dikombinasikan dengan mesin V6 berkapasitas 1,6 liter. Selain itu, ubahan diharapkan terjadi pada putaran mesin yang lebih tinggi 3.000 rpm dari mesin saat ini. Demikian dilansir BBC, Sabtu (4/11/2017).

Dengan rpm yang lebih tinggi, maka suara mobil balap ini akan kembali nyaring, mirip seperti balapan F1 saat mesin V8.

Bagian lain yang dilakukan revisi yaitu MGU-H (Motor Generator Unit-Heat). Di mana bagian ini salah satu fungsinya mematikan suara mesin.

Sementara itu, FIA akan mempertahankan MGU-K (Motor Generator Unit – Kynetic) yang mampu menghasilkan daya output lebih besar. Dengan MGU-K maka hal itu akan memudahkan pembalap mengontrol mobilnya.

Aturan lainnya yang juga ikut dirombak yaitu pada bagian mesin turbo, di mana dimensi dan bobot beratnya dikurangi. Namun, penambahan lainnya termasuk baterai standar dan penggunaan kontrol elektronik.

Kendati begitu, FIA juga akan memperketat prihal peraturan penggunaan serta batasan bahan bakar.

Artikel Selanjutnya
F1: Juara di Kandang Lawan, Hamilton Ejek Ferrari
Artikel Selanjutnya
Sirkuit Monza Masih Jadi Misteri bagi Sean Gelael