Sukses

Mengenal Lebih Dekat Rival Suzuki Ignis

Liputan6.com, Tokyo- Daihatsu tak mau menyia-nyiakan hajatan otomotif dua tahunan, Tokyo Motor Show. Sebab, perusahaan asal Jepang itu menampilkan sejumlah calon produk terbaru, tak terkecuali DN Trec Concept.

Mobil ini merupakan sebuah Sport Utility Vehicle (SUV). Namun secara dimensi dan desainnya tak sebesar SUV pada umumnya, termasuk low SUV.

 

 

Ternyata, DN Trec ini digadang-gadang akan menjadi adik Daihatsu Terios yang bakal melawan Suzuki Ignis.

Menurut Tadao Yokota GM Brand Office, Daihatsu Motor Company, DN Trec merupakan SUV kompak yang memiliki desain stylish.

"DN Trec akan mudah dikendarai baik di jalanan sempit, termasuk untuk beraktifitas saat berkendara dalam kota atau bisa digunakan saat berliburan," ungkap Tadao saat ditemui di acara Tokyo Motor Show 2017 di Tokyo Big Sight, Tokyo, Jepang, Rabu (27/1/2017).

Bukan tanpa alasan Daihatsu memilih DN Trec sebagai calon mobil terbaru di waktu yang akan datang. Sebab kata Koichiro, untuk pasar Jepang, SUV cukup populer karena memiliki dimensi yang sangat besar.

Hanya saja, lanjut dia, mobil dengan bodi yang cukup besar jarang dipakai di perkotaan, terlebih jika jalanan sangat sempit.

"Kalau SUV yang asli itu memiliki tenaga besar tapi kurang nyaman. Kalau mobil penumpang asli memiliki kenyamanan tapi kurang bertenaga. Nah jika DN Trec tidak akan menyusahkan dan dapat dikendarai berbagai kondisi," tuturnya.

Pantauan Liputan6.com, jika memang Daihatsu DN Trec diciptakan tentu dapat bersaing melawan Suzuki Ignis. Hal ini pula terlihat dari dimensinya yang tak sebesar Low SUV.

Selain itu, jika DN Trec dibuat, kabarnya untuk pasar Jepang akan menyematkan mesin 1.200 cc hybrid dan 1.000 cc turbo. Nah, jika masuk Indonesia, bisa saja mesin hybrid dan turbo tidak menjadi pilihan, agar harga jualnya lebih murah.

1 dari 2 halaman

Seberapa Menarik Suzuki Ignis?

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) resmi memperkenalkan Suzuki Ignis ke publik Indonesia di Jakarta, Senin (17/4) kemarin. City car pengganti Splash ini dibanderol dengan harga mulai dari Rp 139,5 juta.

Dari sekian banyak aspek yang terdapat pada mobil ini, setidaknya ada beberapa yang paling menarik perhatian. Salah satunya adalah fitur kenyamanan. Satu fiturnya tampaknya "salah sasaran" karena peruntukkan yang kurang tepat.

Di bagian depan, terdapat fitur auto climate control dan heater, yang desainnya terpisah dari dashboard. Climate control pada dasarnya adalah fitur yang memungkinkan AC mengatur suhu secara otomatis dengan melihat kondisi udara di luar mobil.

Jika udara panas, maka kompresor AC akan bekerja maksimal, sementara jika suhu rendah, maka kompresor AC akan mati.

Sementara heater, sebagaimana namanya, adalah fitur yang mengeluarkan suhu hangat. Keduanya sebetulnya cocok dipakai di negara bermusim empat. Sementara di Indonesia yang suhunya konstan, justru tidak terlalu dibutuhkan.

Fitur kedua adalah transmisi mobil. Alih-alih menggunakan transmisi matik konvensional yang menggunakan CVT, Suzuki justru lebih memilih auto gear shift (AGS).

AGS mudahnya adalah transmisi yang menggunakan girboks dengan kopling kering layaknya mobil manual. Namun demikian, mekanisme koplingnya itu dikendalikan oleh pompa yang diatur secara otomatis, tidak manual seperti mobil manual konvensional.

Transmisi ini sebelumnya ada pada mobil murah ramah lingkungan (LCGC) Suzuki, Karimun Wagon R.

"Kenapa kami pakai AGS dan bukan CVT, karena ini strategi. Kami percaya, transmisi AGS dapat diterima masyarakat," ujar Direktur Marketing PT SIS, Donny Saputra.

Artikel Selanjutnya
Rossi Belajar Banyak dari Vinales Musim Ini
Artikel Selanjutnya
Menuju Kelas MotoGP, Morbidelli Punya Modal Bagus