Sukses

Waspadai Gaya Mengemudi yang Bisa Memicu Kerusakan CVT

Liputan6.com, Jakarta - Transmisi CVT atau continuously variable transmission menjadi jenis transmisi otomatis yang kini sedang ramai digunakan di beberapa model terbaru. Alasannya, mobil akan terasa tak ada entakan alias mulus saat berakselerasi di jalanan.

Namun, menurut Supervisior bengkel Plaza Toyota Pramuka, Saiful Anwar, meski terasa kurang spontan saat memulai akselerasi, hal itu ternyata sangat normal untuk sebuah CVT. Bahkan jika sudah mencapai rpm tinggi, CVT tak bisa disebut lemot.

“Karena CVT itu paling beda karakternya. CVT itu mobil yang tidak bisa langsung ngebut. Yang harus dijaga adalah cara kita atau cara berkendaranya saja,” ucap Saiful saat ditemui Liputan6.com, di bengkel Plaza Toyota Pramuka, Jakarta Timur.

Lebih lanjut Saiful menuturkan, jika mobil dengan transmisi CVT selalu dipacu langsung agar mendapatkan akselerasi maksimal, komponen pada CVT justru akan bermasalah atau rusak.

1 dari 3 halaman

Biaya Perbaikan CVT

Selain gaya berkendara, CVT juga bisa saja bermasalah jika terendam banjir.

“Kalau banjir, ban sudah tertutupi mending enggak usah lewat. Karena kalau dinyalain bagian dalam mesinya ada putaran dan di dalam itu sudah ada olinya, jadi yah begitu tercampur maka bisa rusak,” tuturnya,

Saiful tak menampik jika CVT rusak maka ongkos untuk melakukan perbaikanya bisa sangat mahal, bahkan diperkirakan lebih dari Rp 30 juta.

2 dari 3 halaman

Cara Gampang Mengetahui Transmisi CVT Bermasalah

Mobil yang menerapkan sistem transmisi otomatis CVT bisa mengalami kerusakan. Menurut Saiful, ada beberapa gejala yang bisa dirasakan apabila kemampuan CVT menurun.

“Hampir sama (gejalanya) dengan mobil matik konvensional. Cuma kalau untuk CVT jadi tarikannya tidak enak atau jadi lambat,” ucap Saiful

Dia menerangkan, yang dimaksud tarikan "tak enak" adalah di mana saat menginjak pedal gas akan terasa jeda, atau entakan.

Jika mobil dipacu dengan kecepatan penuh, tarikannya terasa lambat. Hal ini juga sama seperti sepeda motor matik, yang diakibatkan bagian drive belt mengalami aus sehingga menjadi ngelos atau slip saat berakselerasi.

Transmisi CVT selain lebih halus dalam berakselerasi juga dianggap lebih irit bahan bakar. Namun, jika terjadi gejala kerusakan, bukan tak mungkin hal itu berimbas pada borosnya bahan bakar.

Kata Saiful, borosnya bahan bakar karena bagian belt yang mengalami keausan, secara otomatis membuat putarannya menjadi tidak maksimal.

“Yang diputarkan bagian belt itu jadi tidak maksimal ada selip, yang mengakibatkan si putarannya (puli) ini harusnya bisa jalan, tapi karena ada slip jadi tidak jalan. Padahal bahan bakar ini akan terus memasok,” ujarnya.

Berapa persen borosnya, Saiful tak menjawabnya. Hal itu tergantung dari cara berkendara dan kerusakan yang terjadi.

Artikel Selanjutnya
Apa Saja Manfaat Fairing pada Motor Sport?
Artikel Selanjutnya
Nasib Daihatsu Sirion di Indonesia Tak Seberuntung di Malaysia