Sukses

Sulit Beli Mobil di Singapura, Sewa Sepeda Jadi Salah Satu Solusi

Liputan6.com, Singapura - Salah satu negara yang mematok harga kendaraan, seperti mobil atau motor cukup mahal adalah Singapura. Namun, pertumbuhan kendaraan di negeri tetangga ini masih cukup tinggi, padahal jalan yang tersedia sangat terbatas.

Melihat hal tersebut, pemerintah Singapura sudah membatasi pertumbuhan populasi kendaraan per tahun, dan akan menjadi nol persen, dari 0,25 persen. Langkah ini perlu dilakukan, karena memang keterbatasan lahan yang bisa digunakan untuk jalan raya.

"Dengan target nol persen pertumbuhan, kini pemerintah juga menyediakan penyewaan sepeda yang bisa digunakan melalui aplikasi, dan tinggal di-scan untuk sewa," jelas Richard salah satu tour guide saat acara Nissan Future, di Singapura, Senin (5/2/2018).

Untuk diketahui, menurut Land Transport Authority (LTA), saat ini 12 persen dari lahan di Singapura digunakan sebagai jalan raya. "Melihat dari kebutuhan, lahan tambahan yang bisa digunakan sebagai jalan raya sangat terbatas," ungkap LTA.

Di tahun 2016, setidaknya terdapat 600 ribu unit mobil pribadi dan rental di jalanan, dengan total jumlah penduduk 5,6 juta jiwa. Angka penduduk bertambah 40 persen dibanding tahun 2000.

Dengan dibatasi pertumbuhan kendaraan pribadi, Singapura memang akan fokus kepada layanan transportasi publik. Dalam kurun enam tahun terakhir, jaringan rel kereta api sudah bertambah 30 persen dengan kehadiran 41 stasiun kereta baru. Rute serta kapasitas bus juga ditambahkan.

Pemerintah Singapura akan menginvestasikan S$ 20 miliar (setara Rp 198 triliun) untuk menambah infrastruktur rel kereta baru, memperbarui kereta, dan menambahkan aset. Pemerintah menginvestasikan S$ 4 miliar (setara Rp 39 triliun) untuk subsidi di sektor transportasi bus.

LTA masih mengizinkan pertumbuhan mobil pengangkut kebutuhan pokok dan bus sebesar 0,25 persen hingga kuartal pertama tahun 2021.

1 dari 2 halaman

Di Singapura, Denda Ugal-Ugalan Bisa Beli Ninja 250

Disitanya Lamborghini milik Kevin Pratama Chandra setelah tertangkap balap liar menjadi gambaran betapa ketatnya peraturan di Singapura. Tidak hanya dipenjara selama dua minggu, Ia harus membayar denda S$ 1.500 (setara Rp 15 juta), dan dilarang mengemudi selama 18 bulan.

Kejadian balap liar tersebut terjadi pada 8 Mei 2015. Dan kini seperti diberitakan straitstimes, Lamborghininya disita oleh negara, yang kemungkinan akan didaur ulang atau dilelang.

 

 

Lantas, seberapa mahal harga yang harus dibayar jika melanggar lalu lintas di Singapore? Menurut straitsimes, denda melebihi kecepatan yang ditetapkan di jalan raya bisa bervariasi. Denda yang harus dibayarkan mencapai S$200 (setara Rp 2 juta rupiah).

Angka tersebut tergolong kecil jika dibanding dengan denda yang harus dibayarkan jika Anda berkendara ugal-ugalan dan berpotensi membahayakan orang lain. Jika Anda tertangkap untuk pertama kalinya ugal-ugalan di jalan raya, denda yang harus dibayar mencapai S$3.000 (setara Rp 30 juta) atau dipenjara selama 12 bulan, bahkan bisa keduanya.

Jika masih nekat dan melakukan kesalahan yang sama, Anda bisa didenda hingga S$5.000 (setara Rp 50 juta rupiah) atau dipenjara selama 2 tahun, atau keduanya. Angka tersebut bahkan lebih mahal dari sebuah Ninja 250SL yang dibanderol Rp 45,4 juta on the road Jakarta.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
Top3: Tenaga Dalam Emak-Emak dan Aksesori Kekinian
Artikel Selanjutnya
New Daihatsu Sirion Rilis Bulan Depan, Apa yang Berubah?