Sukses

Kapan Waktu yang Tepat Ganti Timing Chain Toyota Agya?

Liputan6.com, Jakarta - Bagi para pengguna mobil mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata timing belt atau timing chain. Sebagian besar mobil menggunakan timing belt. Sisanya memakai timing chain seperti Toyota Agya. Mobil LCGC ini menggunakan rantai untuk mekanisme kerja mesinnya.

Timing chain atau timing belt ini tidak boleh lolos dari perhatian para pemilik mobil. Jika putus, perbaikannya mau tidak mau harus turun mesin, karena kerusakan merembet ke komponen lain. Kerusakan timing chain dapat disebabkan beberapa faktor salah satunya karena faktor usia pemakaian atau karena salah pemasangan. Penyetelan timing chain harus pas, tidak boleh terlalu tegang atau kendur, karena sangat mempengaruhi daya tahan piranti ini saat bekerja.

"KM 50.000 harus diperhatikan karena banyak yang aus, dan biasanya dari KM 40.000-50.000 itu timing chain karena memang umurnya yang mengharuskan diganti," kata Ketua Umum Toyota Agya Club, Lukman Hakim usai menggelar media gathering di Kelapa Gading, Kamis (8/2/2018).

Menurutnya, kebanyakan pengendara kerap lupa dengan beberapa part yang seharusnya diganti menurut service manual book yang dimiliki.

"Biasanya sudah ganti oli, busi, atau servis biasa sih cukup. Tapi kalau kita lihat di service manual book-nya ada beberapa part yang harus diganti, kadang kita lupa, yang penting jangan lupa servis tepat pada waktunya di bengkel resmi," pungkasnya.

Untuk diketahui, Toyota Agya Club yang merupakan salah satu klub binaan PT Toyota Astra Motor ini telah memiliki 1.980 member dan telah mendeklarasikan 35 chapter se-Indonesia.

1 dari 4 halaman

Perbaikan Ringan di Mobil akan Bernilai Besar

Mobil sebagai benda bergerak membutuhkan perawatan rutin. Terlebih lagi bila mobil tersebut sering digunakan setiap hari dan menempuh jarak yang cukup jauh.

Terkadang masalah timbul karena penggunaan sehari-hari. Agar tetap prima ketika digunakan maka masalah awal yang timbul harus segera diantisipasi dengan cara memperbaikinya.

Mungkin memperbaiki kerusakan awal tersebut akan memakan biaya, tetapi tidak sebesar ketika kerusakan tersebut merambat ke bagian lain sehingga akan menambah banyak biaya perbaikan.

Terkadang banyak orang yang mengabaikan sebuah kerusakan kecil, padahal alasan mereka bukan karena ketiadaan uang untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Pemilik mobil hanya tidak sempat meluangkan waktu untuk memeriksa kondisi mobilnya.

Sebenarnya mudah saja untuk melakukan perbaikan kecil tersebut, yang penting hanya kesediaan meluangkan waktu untuk mengecek dan membawanya ke bengkel langganan untuk mendapatkan perbaikan sesegera mungkin.

Melansir laman Marketwatch, yang ditulis Rabu (16/4/2014), berikut adalah tujuh perbaikan mobil yang tidak memakan banyak biaya tetapi ada konsekuensi mahal bila mengabaikannya:

1. Wiper Rusak

Wiper kaca bila digunakan terus menerus akan menurun kualitasnya. Bila sapuan dari wiper mobil Anda mulai kurang bersih dan masih banyak meninggalkan sisa air maka segeralah mengganti wiper tersebut. Dikhawatirkan bila tidak segera diganti dan melakukan perjalanan di kala hujan maka dapat membuat kaca buram dan beresiko menimbulkan kecelakaan.

2. Kaca Depan Retak

Ketika kaca depan retak atau terlalu kotor, pemilik mobil terkadang masih kurang peduli. Padahal fungsi kaca depan ini sangat vital karena selain melindungi pengendara dari terpaan debu dan hempasan krikil, kaca depan juga dapat mempengaruhi kenyamanan berkendara.

Bila kaca depan terjadi keretakan yang cukup luas, maka sebaiknya ganti kaca tersebut karena dikhawatirkan bila digunakan ketika perjalanan dalam cuaca yang cukup ekstrim maka dapat pecah dan membahayakan pengemudi.

Ketika akan mengganti komponen kaca sebaiknya dilakukan pada toko kaca yang memiliki sertifikat atau yang terkemuka langganan Anda karena memberi garansi serta kualitas yang dapat dipercaya.

 

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

3. Tekanan Ban

Kondisi pada ban dapat menunjukkan kemungkinan masalah yang dapat terjadi. Kembangan yang aus tidak merata dapat menjadi indikasi kesalahan pemasangan atau terjadinya masalah pada komponen suspensi dan kaki-kaki.

Tekanan ban harus sesuai dengan rekomendasi pabrik supaya mencegah terjadinya pecah ban yang dapat membahayakan pengendara dan juga tekanan ban yang tidak sesuai juga dapat menambah konsumsi bahan bakar.

Selain tekanan ban, pemilik mobil juga sebaiknya menghindari membeli ban bekas. Ban bekas tersebut bisa saja pernah terjadi masalah sebelumnya seperti pernah ditambal karena terkena paku atau digunakan dengan tekanan yang tidak sesuai sehingga rentan terjadi pecah ban.

4. Komponen Cairan Pendukung

Terkadang terjadi salah paham dari pemilik mobil bila oli merupakan satu-satunya cairan yang perlu diperiksa dan rutin diganti. Sebenarnya selain oli masih terdapat beberapa komponen cairan pendukung kinerja sebuah mobil seperti minyak rem, pelumas transmisi, oli power steering, dan cairan radiator.

Usahakan kondisi cairan tersebut tetap baik dan berada di level yang dianjurkan. Bila cairan pelumasan sudah tampak sangat hitam dan seperti lumpur maka sebaiknya diganti baru agar tidak merusak komponen yang dilumasi.

5. Lampu Indikator Mesin Berkedip

Jika lampu indikator mesin berkedip, itu tandanya berarti kerusakan terjadi pada komponen mesin dan mobil harus dimatikan. Lampu mesin memiliki berbagai warna seperti oranye, kuning atau kuning keemasan, tergantung pada produsen.

Jika lampu mulai berkedip, biasanya menunjukkan masalah yang lebih serius. Bila terjadi masalah seperti ini sebaiknya segera hubungi bengkel langganan Anda untuk di cek dan diperbaiki komponen mesin yang terjadi kerusakan.

 

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

6. Sensor Oksigen

Kerusakan pada bagian ini terkadang menjadi alasan mengapa lampu indikator mesin berkedip. Sebuah sensor oksigen yang rusak akan membuat mesin mengkonsumsi bahan bakar lebih banyak hingga mencapai 40% dari biasanya.

Sebagai langkah awal, pemilik mobil dapat mengecek apakah ada kabel terputus. Dalam beberapa kasus, kawat mengarah ke sensor oksigen dapat rusak atau terbakar. Mengganti komponen tersebut mencegah Anda mengeluarkan biaya ekstra untuk penggunaan bahan bakar yang boros.

7. Timing Belt

Timing belt berfungsi mengatur pembukaan dan penutupan katup mesin sehingga rentan terhadap kerusakan setelah menempuh jarak yang cukup jauh. Bila montir menyarankan untuk menggantinya maka sebaiknya Anda mengikuti nasihat dari montir untuk mengganti komponen tersebut.

Penggantian timing belt ini sebenarnya cukup lama, komponen ini mampu bekerja hingga jarak 15 ribu kilometer. Namun sebaiknya jangan memaksakan bila kondisi timing belt sudah getas dan terlihat kendur karena akan berdampak pada kinerja mesin yang akan terganggu.

Bila pemilik mobil perhatian pada tunggangannya maka mobil pun akan nyaman dan aman dikendarai. Selain itu pemilik juga terhindar dari pengeluaran yang lebih besar karena kerusakan mobil yang kurang diperhatikan.

Artikel Selanjutnya
Gaya Yogya Dalam Mercedes-Benz E250 yang Akan Tampil di Jepang
Artikel Selanjutnya
Tingkatkan Layanan Purnajual, Daihatsu Belajar dari Malaysia